Minggu, 23 Februari 2025

Masuknya Jepang ke Indonesia

 Assalamualaik anak anak Man Kota Singkawang, semoga semuanya dalam keadaan sehat

yuk kita lanjut belajarnya, pada materi kali ini kita akan mempelajari tentang sejarah masuknya Jepang ke Indonesia

Sejarah awal masuknya Jepang ke Indonesia dimulai ketika pasukan Negeri Sakura berhasil menyerang Pearl Harbour, pangkalan terbesar angkatan laut Amerika Serikat di Samudra Pasifik pada 8 Desember 1941.
Akibat dari serangan itu, Jepang berhasil menghancurkan basis militer Amerika di kawasan tersebut, termasuk di Filipina. Setelah itu, Jepang memperluas basis militernya ke arah selatan, yaitu Indonesia.

Tujuannya Jepang ke Indonesia adalah untuk mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri perang seperti minyak bumi, timah, dan aluminium, seperti dikutip dari buku Sejarah SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Semester 2 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Kala itu Jepang memperkirakan sumber daya alam Indonesia dapat mencukupi kebutuhan energi mereka selama Perang Pasifik.

Jepang masuk ke Indonesia pada tanggal 11 Januari 1942 dengan mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur. Ketika datang, Jepang langsung menduduki kota tersebut.

Kemudian dengan cepat, Jepang memperluas kekuasaannya ke kota-kota sekitar, seperti Balikpapan pada 24 Januari 1942, Pontianak pada 29 Januari 1942, Samarinda pada 3 Februari 1942, dan Banjarmasin pada 10 Februari 1942.

Sembari menguasai Kalimantan, pasukan Jepang juga berekspansi ke wilayah lain, seperti Ambon yang berhasil dikuasai pada 4 Februari 1942 dan Palembang pada 16 Februari 1942.

Setelah berhasil menguasai luar Jawa, Jepang akhirnya tiba di Pulau Jawa. Pasukan Jepang langsung mendarat di tiga titik, yaitu Teluk Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat), dan Kragen (Jawa Tengah) pada 28 Februari 1942.

Serbuan tentara Jepang yang begitu cepat dan dengan kekuatan yang besar membuat Belanda yang kala itu masih menduduki Indonesia tidak dapat bertahan.

Akhirnya, Gubernur Jenderal A.W.L Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan beberapa petinggi militer Belanda pun memutuskan untuk bertemu dengan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati, Subang, Jawa Barat pada 8 Maret 1942.

Pada pertemuan itu, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Belanda juga langsung menyerahkan Indonesia ke kekuasaan Jepang. Sejak pertemuan itu, penjajahan Jepang di Indonesia pun resmi dimulai.

Kronologi Awal Masuknya Jepang ke Indonesia
Berikut kronologi awal masuk Jepang ke Indonesia seperti dirangkum dari Modul Sejarah Kelas XI.

8 Desember 1941: Jepang berhasil menyerang Pearl Harbour milik Angkatan Laut AS.
11 Januari 1942: Jepang tiba di Tarakan, Kalimantan Timur dan mulai menguasai kota-kota di sekitarnya.
4 Februari 1942: Jepang turut menguasai kota-kota lain di luar Kalimantan seperti Ambon.
28 Februari 1942: Jepang tiba di Pulau Jawa, tepatnya di Teluk Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat), dan Kragen (Jawa Tengah).
8 Maret 1942: Belanda menyerah tanpa syarat ke Jepang dan mulai menguasai Indonesia.

Sambutan Rakyat Indonesia
Setelah mengetahui sejarah awal masuknya Jepang ke Indonesia, lantas bagaimana sambutan rakyat Indonesia pada saat itu?

Rupanya, sambutan rakyat Indonesia kala itu sangat senang. Sebab, rakyat Indonesia memandang Jepang sebagai 'Saudara Tua' karena memiliki latar belakang sesama bangsa Asia.

Rakyat Indonesia juga menyakini bahwa Jepang dapat membebaskan Indonesia dari kekuasaan Belanda yang menjajah selama ratusan tahun. Selain itu, ada pula faktor kepercayaan ramalan Jayabaya, sehingga rakyat simpati pada Jepang.

Di sisi lain, Pemerintah Jepang juga menyebarkan propaganda berupa dukungan kepada rakyat Indonesia untuk merdeka seperti membenci Belanda, memperbolehkan berkibarnya Bendera Merah Putih, dan memperdengarkan Lagu Indonesia Raya.

Jepang juga menyebarkan propaganda gerakan 3A, yaitu Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia, dan Jepang Cahaya Asia. Propaganda ini seolah menekankan bahwa Jepang mendukung Indonesia sebagai sesama bangsa Asia.

Tak ketinggalan, Jepang juga berusaha mencuri hati rakyat Indonesia dengan mendirikan berbagai organisasi seperti Putera, Jawa Hokokai, sampai Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas untuk menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan Indonesia untuk merdeka.

Jepang memberi janji kemerdekaan kepada Indonesia, sehingga menumbuhkan harapan di hati rakyat maupun para tokoh nasional.

Padahal, Jepang ingin menggunakan rakyat Indonesia yang masuk dalam organisasi semi militer dan militer mereka untuk ikut berperang melawan Amerika Serikat dan Sekutu di tengah perang.

Organisasi pada masa Jepang

Organisasi pergerakan masa pendudukan Jepang terdiri dari berbagai jenis berdasarkan sifatnya. Ada yang bersifat pendidikan, politik sosial, semi militer, sampai militer.

Organisasi-organisasi tersebut hadir untuk mendukung keseluruhan pemerintahan yang dijalankan oleh Jepang.

Berikut daftar organisasi pergerakan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Organisasi Pendidikan, Politik, Sosial
Organisasi pergerakan pada masa kependudukan Jepang yang bersifat politik sosial terbagi menjadi empat.

Berikut kelima organisasi tersebut seperti dikutip dari Modul Pembelajaran Sejarah Indonesia SMA Kelas XI Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

1. Gerakan 3A
Gerakan 3A adalah organisasi yang didirikan sesuai semboyan pemerintahan Jepang di Indonesia, yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia, dan Nippon Cahaya Asia.

Organisasi ini didirikan pada 29 April 1942 bertepatan dengan Hari Nasional Jepang, yaitu hari kelahiran Kaisar Hirohito (Tencosetsu).

Gerakan 3A dipelopori oleh Kepala Departemen Propanda Jepang (Sendenbu) Hitoshi Shimizu dan diketuai oleh Raden Syamsudin sebagai perwakilan dari Indonesia.

Tugas organisasi ini adalah untuk menampung para pemuda berusia 14-18 tahun dan kemudian memberikan pendidikan melalui kursus kilat, olahraga Jepang, dan lainnya.

2. Putera
Putera atau Pusat Tenaga Rakyat adalah organisasi yang bertugas untuk menjadi wadah dari segala potensi rakyat agar dapat membantu Jepang dalam perang.

Organisasi ini memiliki fungsi sebagai propaganda sehingga Jepang memperbolehkan organisasi ini untuk menggunakan fasilitas seperti media pemerintahan Jepang, yaitu koran dan radio.

Selain itu, Putera juga memiliki tugas untuk memperbaiki bidang sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Putera dipimpin oleh Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Moh. Hatta, Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara.

3. MIAI
MIAI atau Majelis Islam A'la Indonesia adalah organisasi Islam pada masa pemerintah kolonial Belanda tapi kembali dihidupkan pada masa pemerintahan Jepang. Tepatnya, pada 4 September 1942.

Organisasi ini menjadi wadah untuk silaturahmi, dialog, dan musyawarah hal-hal yang menyangkut kehidupan umat. Semboyan MIAI yang terkenal yaitu 'Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah berpecah belah.

Jepang menghidupkan kembali MIAI karena dapat menghimpun masyarakat, khususnya kalangan muslim yang diharapkan dapat dimobilisasi untuk keperluan perang.

4. Jawa Hokokai
Jawa Hokokai adalah organisasi yang dibentuk Panglima Tentara ke-16 Jenderal Kumaikici Harada. Tujuannya untuk menyatukan semangat rakyat secara lahir dan batin agar setia mendukung Jepang.

Organisasi ini dipimpin oleh pemerintahan Jepang langsung tetapi menempatkan Soekarno dan Hasyim Asyari sebagai penasihat. Organisasi ini memiliki struktur yang banyak mulai dari tingkat daerah sampai ke desa-desa.

Selain itu, organisasi ini juga terdiri dari macam-macam himpunan dengan berbagai bidang profesi yang ada di Indonesia.

Organisasi Semi Militer
Selain organisasi yang bersifat politik sosial, terdapat pula beberapa organisasi semi militer bentukan Jepang.

Berikut organisasi pergerakan masa pendudukan Jepang yang bersifat semi militer seperti dirangkum dari Modul Pembelajaran Sejarah SMA Kelas XI Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

1. Seinendan
Seinendan atau Barisan Pemuda adalah organisasi yang didirikan untuk membantu pertahanan di daerah. Organisasi ini dibentuk pada 9 Maret 1943.

Organisasi ini menyasar kalangan muda, khususnya yang berusia 26-35 tahun.

2. Keibodan
Keibodan atau Barisan Pembantu Polisi adalah organisasi yang dibentuk pada 29 April 1943. Tujuannya untuk membantu tugas-tugas polisi seperti menjaga lalu lintas dan memelihara keamanan desa.

Organisasi Keibodan berisi anggota yang merupakan pemuda berusia 26-35 tahun. Di Sumatra, Keibodan dikenal dengan istilah Bogodan, sedangkan di Kalimantan disebut Borneo Konan Hokokudan.

3. Fujinkai
Fujinkai atau Barisan Wanita adalah organisasi bentukan Jepang yang bertugas untuk membantu pemerintah dalam perang melawan Sekutu.

Namun, anggotanya merupakan kalangan wanita dengan usia 15 tahun ke atas. Organisasi ini dibentuk sekitar Agustus 1943.

Tak hanya membantu bidang semi militer, Fujinkai juga bertugas untuk menggelar pendidikan, kursus, dapur umum, dan pertolongan pertama. Anggotanya diwajibkan bekerja tanpa upah. Bahkan, Jepang menggalang dana dari para anggota.

4. Suishintai/Barisan Pelopor
Suishintai atau Barisan Pelopor adalah organisasi pemuda pertama di masa penjajahan Jepang yang dibimbing atau diketuai langsung oleh para kaum nasionalis Indonesia.

Organisasi ini dibentuk pada 1 November 1944 dan dikenal juga sebagai Barisan Banteng pada era pasca-kemerdekaan. Organisasi semi militer yang dibentuk Jepang untuk kalangan pemuda ini diketuai oleh Soekarno, Pandji Soeroso, Otto Iskandardinata, dan Boentaran Martoadmodjo.

5. Seinentai dan Gakutotai
Seinentai adalah organisasi semi militer yang berisi anak-anak SD. Sementara Gakutotai adalah organisasi yang berisi anak-anak sekolah menengah. Kedua organisasi dibentuk sebagai bala bantuan untuk pertahanan militer Jepang.

6. Hizbullah
Hizbullah adalah organisasi pasukan sukarela atau cadangan yang beranggotakan pemuda Islam. Organisasi ini dibentuk pada 15 Desember 1944 dan diketuai oleh Zainal Arifin dan wakilnya Mohammad Roem.

rganisasi Militer
Berikut organisasi militer bentukan Jepang di Indonesia.

1. Peta
Peta atau Pembela Tanah Air merupakan organisasi militer resmi Jepang yang dibentuk pada 3 Oktober 1943. Tugasnya untuk mempertahankan Tanah Air Indonesia.

Mulanya, organisasi Peta dibentuk di wilayah kekuasaan tentara ke-16 di Jawa dan Madura. Lalu, berkembang di luar Jawa, seperti di Sumatra yang dikenal dengan sebutan Giyugun atau Prajurit Sukarela.

Tokoh Peta yang terkenal, yaitu Soeprijadi, Jenderal Soedirman, dan Jenderal Gatot Soebroto.

2. Heiho
Heiho atau Pembantu Prajurit Jepang adalah organisasi pemuda yang akan menjadi barisan pembantu kesatuan angkatan perang pemerintahan militer Jepang.

Ini merupakan organisasi militer yang resmi dan menjadi bagian dari ketentaraan Jepang. Heiho dibentuk pada April 1945. Anggotanya terdiri dari kalangan pemuda berusia 18-25 tahun dengan pendidikan terendah SD.

Perlawanan pada masa Jepang

Kebijakan penjajahan Jepang menyebabkan banyak kerugian pada rakyat Indonesia, sehingga timbullah perlawanan rakyat Indonesia terhadap pendudukan Jepang.

Ada setidaknya tujuh bentuk perlawanan rakyat Indonesia terhadap pendudukan Jepang. Apa saja itu? Yuk, kita bahas bersama-sama!

Bentuk Perlawanan Indonesia Terhadap Jepang

1. Perlawanan Masyarakat Cot Plieng

Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Jepang pertama kali terjadi di Cot Plieng Bayu, Aceh. Di mana rakyat melawan tentara Jepang setelah singgah selama delapan bulan.

Tokoh perlawanannya adalah Tengku Abdul Jalil, seorang guru mengaji dan pemimpin perang di Cot Plieng, Aceh.

Latar belakang perlawan Cot Plieng adalah tentara Jepang menyuruh rakyat Aceh untuk melakukan seikerei, yaitu penghormatan kepada kaisar Jepang dengan membungkukkan badan ke arah Tokyo. Hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak boleh menyembah sesuatu selain Tuhan.

Akhirnya, Pasukan Jepang melakukan penghinaan terhadap umat Islam Aceh dengan membakar masjid dan membunuh jamaah yang sedang salat subuh.

Puncak peristiwa tersebut terjadi pada 10 November 1942 dan Tengku Abdul Jalil tewas dalam pertempuran tersebut pada tanggal 13 November 1942.

2. Perlawanan Gerakan Koreri di Biak

Perlawan kedua rakyat Indonesia pada Jepang pada 1943 terjadi di Biak, Papua. Perlawan ini dilakukan oleh gerakan Koreri. Tokoh perlawanan ini adalah L. Rumkorem.

Latar belakang perlawanan rakyat terhadap Jepang adalah perlakuan semena-mena Jepang pada rakyat.

Gerakan Koreri dilakukan secara gerilya. Rakyat Papua tetap gigih melawan, hingga akhirnya Jepang kewalahan dan pergi dari Biak. Biak menjadi daerah pertama yang bebas dan merdeka di Indonesia dari penjajahan Jepang.

3. Perlawanan Singaparna

Pada awal 1944, terjadi perlawanan rakyat Singaparna, Tasikmalaya, terhadap pendudukan Jepang. Tokoh perlawanannya adalah K.H. Zaenal Mustafa dari pesantren Sukamanah.

Latar belakang perlawanan itu berawal dari pemaksaan Jepang kepada santri-santri pesantren Sukamanah untuk melakukan sikeirei, sehingga pada Februari 1944, rakyat Singaparna melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Jepang berhasil menangkap Kiai Zainal Mustafa dan para santri setelah selesai salat Jumat. Mereka dibawa tentara Jepang ke Tasikmalaya, kemudian ke Jakarta untuk dihukum mati.

4. Perlawanan Indramayu

Pada April 1944, terjadi perlawanan santri di daerah Indramayu terhadapan pendudukan Jepang.

Tokoh perlawanan Indramayu ada di bawah pimpinan Haji Madriyas.

Latar belakang perlawanannya adalah rakyat Indramayu tidak tahan terhadap kekejaman yang dilakukan serdadu-serdadu Jepang.

5. Perlawanan Aceh

Pada November 1944 terjadi perlawanan terhadap Jepang di daerah Jangka Buyadi, Aceh. Tokoh perlawanannya adalah seorang perwira 762 Giyugun, Teuku Hamid.

Perlawanan ini terjadi karena pemerintahan militer Jepang melakukan tindakan kekerasan serta tidak menghormati adat istiadat setempat.

Jepang pun mengeluarkan ultimatum yang membuat pasukan perlawanan menyerah.

6. Perlawanan di Kalimantan

Perlawanan rakyat terhadap Jepang terjadi juga di Kalimantan.

Tokoh perlawanan ini dipimpin oleh Pang Suma, pemimpin Suku Dayak.

Hal ini dipicu dari seorang pegawai Jepang dipukuli oleh orang Kalimantan karena bertindak sewenang-wenang.

Karena peristiwa inilah terjadi perlawanan rakyat di Kalimantan. Pang Suma melakukan perlawanan dengan memanfaatkan alam Kalimantan yang penuh hutan rimba, sungai, rawa, dan daerah yang sulit ditempuh orang asing.

Pang Suma berhasil merebut Meliau yang menjadi basis pertahanan Jepang di Kalimantan pada Juni 1945.

7. Perlawanan PETA

Pada Februari 1945 terjadi pemberontakan tentara PETA di Blitar.

Tokoh perlawanan PETA ini adalah Supriyadi. Di bawah pimpinan Supriyadi, perlawanan tersebut sangat merepotkan pemerintah pendudukan Jepang dan hampir diikuti oleh seluruh anggota batalyon.

Kekuatan tentara Jepang sulit ditandingi karena dipersenjatai tank dan pesawat udara. Pimpinan tentara Jepang menyerukan agar tentara PETA menyerah dan kembali ke kesatuan masing-masing.

Kurang lebih setengah pasukan Supriyadi kembali. Namun, Supriyadi dan sisa pasukannya tetap setia melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Mereka membuat pertahanan di lereng Gunung Kawi dan Distrik Pare.

Namun, pemberontakan tersebut mengalami kegagalan karena persiapannya tidak matang dan rakyat pun tidak mendukung terhadap pemberontakan tersebut.

Dampak Kedatangan Jepang ke Indonesia
Keberadaan Jepang di Indonesia pun memberi banyak dampak kepada rakyat. Berikut dampak kedatangan Jepang ke Indonesia.

1. Bidang sosial
Masa penjajahan Jepang sejatinya hanya 3,5 tahun, tidak seperti Belanda yang mencapai ratusan tahun. Namun, kehidupan sosial rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang justru lebih memprihatinkan.

Contohnya, rakyat Indonesia diperkerjakan secara paksa (romusha) untuk menyelesaikan berbagai proyek Jepang dalam rangka persiapan perang.

Mereka tidak dibayar, tidak pula diberi makan, sehingga banyak yang mati kelaparan. Bahkan, Jepang juga merampas bahan pangan petani Indonesia untuk kepentingan militer mereka.

Jepang juga mempekerjakan para perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur. Mereka ditipu dan disekap di kamp-kamp tertutup.

2. Bidang ekonomi
Jepang mengambil seluruh sumber daya alam dan bahan mentah Indonesia yang semula akan digunakan untuk industri.

Bahkan, Jepang juga menyita banyak perusahaan perkebunan, pabrik, bank, dan perusahaan penting untuk dimonopoli demi kepentingan mereka.

Jepang juga menentukan komoditas apa yang boleh ditanam dan tidak serta mengatur seluruh distribusinya untuk kepentingan mereka.

Berbagai kebijakan tersebut membuat rakyat Indonesia banyak yang kekurangan pangan, gizi, terkena wabah penyakit, hingga kehilangan nyawa.

Itulah sejarah awal masuknya Jepang ke Indonesia dan dampaknya. Semoga bermanfaat dan selamat belajar.

setelah membaca silahkan kalian untuk mengerjakan soal berikut

https://quizizz.com/join/quiz/65daa3add172e57c36c489f6/start?studentShare=true

Masuknya Jepang ke Indonesia

 Assalamualaik anak anak Man Kota Singkawang, semoga semuanya dalam keadaan sehat yuk kita lanjut belajarnya, pada materi kali ini kita akan...